Semarang, 24 Juli 2007

iconprofil.jpg

Waduh hari ini aku mumet banget nich…. ujian kali ini kayaknya nialaiku jelek deh. gimana dong!

Ditulis dalam Buku Diare. Komentar Dimatikan

Pembangkit Listrik Tenga Nuklir

iconexternal.jpg 

Keputusan pemerintah membangun instalasi pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) meng- undang banyak reaksi pro maupun kontra. Reaksi pro memandang masalah mendesaknya ke- butuhan tenaga listrik di Pulau Jawa dan perlunya penguasaan teknologi tinggi oleh bangsa Indonesia sebagai argumen mutlak.

Reaksi kontra melihat bahaya radiasi yang ditimbulkan PLTN, yang mengandalkan reaksi fisi ataupemecahan atom isotop uranium atau U235, menjadi ancaman keselamatan penduduk yang tinggal di sekitar reaktor khususnya, dan umat manusia umumnya. Orang pun lalu bertanya, mungkinkah diciptakan pembangkit listrik yang berdaya setara dengan dayaPLTN, mengguna- kan bahan bakar yang banyak tersedia, dan tidak mengundang bahaya radiasi?

Jawabnya ya, tetapi relatif. Reaktor fusi menawarkan jawaban, namun tidak ada jaminan reak- tor tipe ini akan sama sekali bebas dari masalah radiasi. Reaksi fusi Proses reaksi fusi kebalikan dari reaksi fisi. Seperti arti harafiahnya, proses ini merupakan reaksipenggabungan dua inti menjadi inti lain yang lebih besar disertai satu atau beberapa partikel tambahan. Reaksi ini sama dengan proses pembakaran hidrogen di matahari atau bintang. Sebenarnya, banyak tipe reaksi fusi yang dapat terjadi di matahari yang sering disebut siklusproton-proton, mulai dari pengga- bungan dua inti hidrogen menjadi inti deuterium hingga penggabungan inti deuterium dan inti tritium. Namun, kebanyakan reaksi ini membutuhkan kondisi tertentu, misalnyatekanan sangat tinggi, yang hanya terdapat di dalam inti matahari atau pun bintang. Satu-satunya reaksi fusi yang diyakini dapat digunakan untuk tujuan komersil ialah penggabungan deuterium dan tritium pada kondisi tertentu akan menghasilkan inti helium yang stabil dan sebuah netron yang mem- bawa sebagian besar energi hasil fusi. Banyak masalah yang masih harus dipecahkan sebelum reaktor fusi dapat digunakan secara komersil.Untuk menggabungkan inti deuterium dengan tri- tium, gaya tolak-menolak akibat muatan positif kedua inti harus diatasi. Cara yang paling mungkin adalah dengan menaikkan suhu kedua inti hingga energikinetiknya dapat mengatasi gaya coulomb tadi. Untuk mengatasi gaya ini dibutuhkan suhu sekitar 50 juta derajat celsius. Untuk menaikkan suhu plasma ada beberapa metode yang dapat digunakan antara lain de- ngan memanfaatkan sifat resistensi plasma atau dengan injeksi gelombang radio pada fre- kuensi antara 50 megahertz hingga 100 gigahertz, mirip seperti oven microwave yang dipakai sehari-hari.

Tetapi karena tidak ada material di atas permukaan bumi yang dapat menahan suhu setinggi ini, makadiperlukan teknik supercanggih untuk melokalisir plasma (inti bermuatan yang memi- liki suhu sangat tinggi) pada proses fusi agar tidak bersentuhan dengan instrumen-instrumen reaktor.

Dua cara

Ada dua cara paling efektif untuk melokalisir plasma selama proses fusi berlangsung, yaitu caramagnetis dan cara inersial. Cara pertama dilakukan di dalam instrumen berbentuk seperti donat yang disebut tokamak. Tokamak menggunakan kombinasi dua medan magnet yang sa- ngat kuat, yang dihasilkan oleh superkonduktor, untuk menahan plasma bersuhu sekitar 50 juta derajat celsius agar tetap berada di tengah-tengah “donat” itu. Sebagian besar netron yang dihasilkan dalam proses fusi akan terhambur ke dinding pertama “donat” yang harus dibuat dari material khusus mengingat beban panas yang dialaminya berkisar 10 juta watt per meter kuadrat. Netron yang diserap dinding ini akan melepaskan sebagian besar energinya. Energi inilah yang kelak dipergunakan menggerakkan turbin pembangkit listrik.

Selain itu, dinding ini juga berguna sebagai media untuk proses breeding tritium untuk kembali diinjeksikan ke dalam plasma sebagai bahan bakar. Contoh reaktor tipe ini adalah Tokamak Fusion Test Reactor (TFTR) yang dibangun di Princeton USA, Joint European Torus di Culham Laboratory Oxford Inggris, atau Tokamak JT-60 yang baru dibangun di Jepang. Cara kedua adalah dengan menggunakan target yang memiliki kerapatan sangat tinggi yang ditem- baki dengan puluhan sinar laser terfokus secara simultan. Intensitas sinar laser di sini harus cukup tinggi agar target dapat seketika menguap. Partikel-partikel yang dihasilkan akan berusaha bergerak ke luar sehingga menimbulkan tekanan ke dalam yang sangat dahsyat. Tekanan yang naik secara drastis ini akan mengakibatkan naiknya suhu target yang pada akhirnya dapat menyalakan proses fusi. Sebenarnya, proses ini merupakan bentuk miniatur bom hidrogen. Eksperimen yang menggunakan prinsip inersial, contohnya terdapat di Lawrence Livermore Laboratory, AS, sekitar 20 laser sinkron disusun untuk menghasilkan energi total sebesar 200 kilojoule dalam sepermilyar detik, yang berartidaya sebesar 200 juta megawatt.

Tampaknya problem suhu tinggi sudah dapat diselesaikan para ilmuwan. Meskipun demikian, masih adamasalah cukup pelik yang harus diatasi sebelum reaktor fusi dapat digunakan seba- gai pembangkit tenaga listrik. Pada reaktor konvensional dikenal istilah titik kritis yang me- nentukan kondisi saat mana reaksi fisimulai berlangsung secara terkendali. Reaktor fusi juga memiliki semacam titik kritis yang sering disebut sebagai kriteria Lawson. Kriteria ini menun- tut kerapatan dan lamanya waktu lokalisir plasma pada hargatertentu agar proses fusi dapat berlangsung. Beberapa reaktor test yang ada saat ini sudah hampir mencapai kriteria itu.

Limbah reaktor fusi

Mungkin, pertanyaan serius yang segera diajukan masyarakat jika reaktor fusi jadi dibangun adalah masalah pengolahan limbahnya. Berlainan dengan reaktor fisi, yang bahan bakar maupun unsur hasilreaksi bersifat radioaktif, pada reaktor fusi hanya tritium yang bersifat radioaktif. Selain itu, tritium memiliki waktu paruh sekitar 12 tahun, jauh lebih cepat stabil ketimbang uranium yang waktu paruhnya sekitar 100 juta tahun. Selain itu, tritium akan diproduksi di tempat yang sama melalui proses breeding.

Sumber radioaktif paling serius di sini adalah material instrumen reaktor yang menjadi radio- aktif karenadihujani bom netron, misalnya dinding pertama reaktor yang bertugas menyerap energi netron selama proses fusi berlangsung. Demi keamanan, para ahli di Pemerintah AS mengajukan tiga klasifikasi limbah. Limbah kelas A, terdiridari material yang dapat menca- pai tingkat “cukup aman” setelah disimpan selama tidak lebih 10 tahun. “Cukup aman” disini didefinisikan sebagai tingkat radiasi lima kali lebih tinggi daripada radiasi latarbelakang, yaitu radiasi yang kita terima sehari-hari dari sinar kosmis ataupun sumber radiasi lain seperti pe- sawat TV, komputer, dan lain sebagainya. Limbah kelas B, terdiri dari material yang secara kimiawi stabil dan dapat mencapai tingkatan “cukupaman” dalam waktu 100 tahun. Limbah tipe ini harus diletakkan di tempat yang stabil dan dikubur di kedalaman tertentu sehingga radiasi yang diterima oleh penduduk, yang secara tidak sengaja memasuki lokasi penimbu- nan limbah, hanya beberapa kali lebih besar dari radiasi latar belakang.

Limbah kelas C, seperti limbah kelas B, namun baru dapat mencapai level “cukup aman” dalam kurun waktu tidak lebih dari 500 tahun. Limbah tipe ini harus dikubur sedikitnya lima meter di bawah permukaan bumi. Lokasi penimbunan limbah harus dibatasi dan diberi tanda khusus agar tidak mudahdilalui orang.

Material yang tidak memenuhi ketiga klasifikasi di atas harus ditangani khusus, sebagaimana penanganan limbah nuklir konvensional. Jadi limbah reaktor fusi lebih aman dan lebih mudah penanganannya.

Perkembangan terakhir

Saat ini para ahli telah mampu melokalisir reaksi fusi tidak hanya dalam hitungan persepuluh- an detik, melainkan dalam ribuan detik. Keberhasilan ini merupakan pertanda reaktor fusi untuk tujuan komersil dapat dibayangkan beroperasi sekitar lima dekade mendatang. Untuk mermpercepat riset termonuklir, kerja sama riset internasional antara AS, Jepang, Rusia, dan Eropa telah menelurkan proposal pembangunan reaktor eksperimen termonuklir inter- nasional, disingkat ITER, yang direncanakan berdiameter sekitar 16 meter, memiliki bahan bakar tritium, pembangkit magnet superkonduktor, serta dapat dikendalikan dari jarak jauh. Rencananya, keputusan akhir pembangunan reaktor riset ini akan dilaksanakan tahun 1998. Di lain pihak, produksi sampingan reaktor riset seperti proton dapat dimanfaatkan, sementa- ra para ahli masih mengembangkan reaktor untuk tujuan pembangkit tenaga listrik. Proton dapat diubah dengan reaksi nuklir tertentu menjadi positron atau anti-elektron yang sangat berguna di bidang medis untuktujuan tomografi.

Para ahli optimis reaktor fusi dapat digunakan dalam waktu setengah abad mendatang. Cukup banyakproblem fisik yang dapat diatasi, namun belum ada perhitungan efisiensi peng- gunaan reaktor secara komersil. Jika reaktor fusi dapat berfungsi, maka manfaat yang dapat dipetik ummat manusia antara lain adalah:tersedianya sumber bahan bakar yang sangat ber- limpah, bahaya radiasi yang relatif lebih rendah, lenyapnya bahan baku bom nuklir (pada prinsipnya reaksi fusi adalah dasar kerja bom hidrogen, namun teknologi untuk menciptakan bom ini sangat pelik ketimbang teknologi bom nuklir konvensional), dan akhirnya pemanfaat- an produksi sampingan reaktor untuk sektor medis

Ditulis dalam Artikel Ilmiah. Komentar Dimatikan

Jam Matahari

Apa Jam Matahari Itu ?

Sundial (Jam Matahari) adalah seperangkat alat yang digunakan sebagai petunjuk waktu semu lokal (local apparent time) dengan memanfaatkan MATAHARI yang menghasilkan bayang-bayang sebuah gnomon (batang atau lempengan yang baying-bayangnya digunakan sebagai petunjuk waktu). Gnomon tersebut dipasang sedemikian rupa sehingga sejajar dengan sumbu bumi, menunjuk kea rah kutub-kutub langit. Pada saat Sundial terkena sinar MATAHARI, bayang-bayang gnomon jatuh diatas sebuah bidang bertanda (bidang dial). Waktu semu local dapat diketahui dengan membaca di bagian mana jatuhnya baying-bayang gnomon tersebut pada bidang dial.

Aneka Ragam Sundial

Sebagai piranti penunjuk waktu, sundial terdiri dari beberapa jenis, yaitu sundial horosontal, vertical, ekuatorial dan meridian. Masing-masing sundial memiliki aturan tersendiri dalam pembuatannya.

Sundial Kota Baru Parahyangan adalah jenis Sundial pertama di Indonesia yang berfungsi sebagai sundial jenis horizontal dan vertical terpadu, juga sebagai sundial terbesar di Indonesia (Sertifikat Museum Rekor Indonesia: Mei 2002). Dengan Lokasi Proyek yang terletak pada lintang 6o51’ LS dan bujur 107 o19’BT, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam Design Sundial ini, antara lain :

Sundial Vertikal
Penentuan Kemiringan Bidang Dial
Penentuan posisi dan panjang Gnomon
Penentuan Garis Jam (hour lines) dibidang dial
Sundial Horisontal
Penentuan posisi dan ketinggian gnomon disesuaikan dengan ukuran bidang dial yang ada
Penentuan garis jam (hour lines) di bidang dial
Penentuan garis Zodiak di bidang dial
Sejarah

Tidak ada yang mengetahui kapan jam matahari pertama dibuat, tetapi jam matahari merupaka salah satu instrument ilmiah pertama yang ditemukan manusia. Di tahun 1728, Jantar Mantar, seorang astronom, menemukan jam matahari kuno dengan tinggi gnomon sekitar 30 m, di kota Jaipur, India.Sebelum jam modern diciptakan, orang menentukan waktu dengan menandai bayangan sesuatu benda atau lubang jendela pada dinding dimana bayangan itu jatuh, baik itu bayangan matahari maupun bayangan Bulan Purnama. Sampai saat ini, jam matahari di Jaipur terkenal sebagai jam matahari horizontal terbesar.

Teknologi jam matahari ini, berkembang diantara Kebudayaan Kuno Babylonia, Yunan, Mesir dan Romawi. Masing-masing memiliki bentuk sendiri-sendiri,tergantung dari perkembangan pengetahuan astronomi dan matematika mereka. Hal ini menunjukan perbedaan periode sejarah yang saling mempengaruhi. Jam Matahri juga berkembang di Timur Jauh seperti Cina dan Jepang, tetapi tidak banyak diketahui oleh sejarah, sebagaimana jam matahari di Kebudayaan Barat.

Jam Matahari tertua yang pernah ditemukan, kebanyakan berasal dari Yunani, berupa sebuah bentukan sirkular dengan penanda di tengah yang ditemukan oleh Chaldean Berosis, yang hidup sekitar 340 SM. Beberapa artefak jam matahari lain ditemukan, di Tivoli Italy tahun 1746, di Castel Nuovo tahun 1751, di Rigano tahun 1751, dan di Pompeii tahun 1762.

Sampai saat ini jam matahari masih dipakai orang lebih sebagai ornament yang memberikan aksentuasi tentang keantikan dan keilmuan yang terus terpelihara mengenai bagaimana orang mengidentifikasikan waktu mereka, yang bahkan terus terabadikan dalam sejarah kebudayaan manusia modern. Jam matahari kemudian banyak dibangun dan digunakan sebagai landmark atau elemen penanda dalam tat ataman kampus-kampus ternama seperti Cambridge tahun 1642, yang terus dikembangkan sampai sekarang, bahkan fisikawan Sir Isaac Newton (1642-1727) turut terlimbat dalam pembuatannya. Jam matahari umumnya terbatas penggunaannya, dan lebih banyak menganduk akademik disbanding funsinya. Akan teteapi studi tentang jam matahari (gnomonics) ini merupakan dasar pemahaman tentang astronomi.

Ditulis dalam Artikel Ilmiah. Komentar Dimatikan

Penemuan Planet Sedna

Penemuan Planet ke-10 Sedna
Bumi & Antariksa :: 14 Juli 2007

Penemuan planet baru ini oleh para astronot planet tersebut diberi nama Sedna. sedna adalah planet yang ke-10 ditata surya ini. sedna berotasi lebih pelan dari pada yang diperkirakan oleh para ilmuan sehingga para ilmuan berpendapat bahwa planet ini mempunyai sebuah satelit.

Menurut ilmuan dari California Institute of Technology planet ini berdiameter tidak lebih dari 1700 kilo meter sedna pertamakali terlihat tanggal 14 November 2003, saat para astronom melakukan pengamatan langit menggunakan teleskop Samuel Oschin 48 inci, milik Observatorium Mount Palomar, California. Astronom-astronom dari Institut Teknologi California, Observatorium Yale, dan Observatorium Gemini, terlibat dalam penemuan tersebut.

Dari hasil penelitian-penelitian para ilmuan pada terakhir ini telah ditemukan beberapa planet, terutama setelah munculnya teleskop-teleskop yang serba cangih saat ini sehingga para ilmuan lebih mudah mencari dan menemukan planet-planet yang baru antaralain :

Varuna, ditemukan tahun 2000, berdiamater sekitar 900 kilometer, Quaoar, misalnya, ditemukan tahun 2002, adalah objek dengan diameter sekitar 1.200 kilometer, sedangkan Ixion, ditemukan tahun 2001, lebarnya 1.065 kilometer. dan sampai saat ini juga planet pluto masih beranggapan bahwa pluto bukanlah sebuah planet melainkan sebuah objek yang bentuknya lebih besar. mereka yang berangapan bahwa pluto adalah tidak sebuah planet tidak menutup kemungkinan sedna pun tidak akan diakui sebagai sebuah planet. dan sedangkan mereka yang beranggapan bahwa planet pluto adalah sebuah planet tidak menutup kemungkinan sedna juga akan disebut dengan planet ke-10 di tatasurya ini apa lagi bila hal yang selama ini telah terbukti bahwa dia memiliki sebuah bulan.

Ditulis dalam Artikel Ilmiah. Komentar Dimatikan

Sejarah Astronomi

Se
Bumi & Antariksa :: 14 Juli 2007

Penelitian tentang fenomena langit sebenarnya sudah di lakukan sejak zaman dulu oleh orang-orang China, Mesopotamia, dan Mesir. Tetapi ilmu astronomi baru berkembang di yunani pada abad ke-6 SM.

Penelitian tentang astronomi di Yunani di awali oleh seorang ilmuan yang bernama Thales pada abad ke-6 SM ia mengemukakan sebuah pendapat bahwa Bumi itu berbentuk datar. Walaupun pada abad yang sama ilmuan Phytagoras telah mengetahui bahwa Bumi itu berbentuk bulat, setelah itu Aristoteles mengeluarkan trobosan yang penting dua abad kemudian yang menyatakan bahwa Bumi itu bulat bundar dengan dukungan dari beberapa buku ilmiah.
.
Terobosan yang kedua nyaris di keluarkan oleh ilmuan Aristachus pada abad ke-3 SM, andai saja Aristachus mempunyai cukup banyak pendukung ia juga bukan perpendapat bahwa Bumi bukanlah pusat alam semesta, tetapi juga ia juga menyatakan bahwa Bumi juga berputar dan beredar mengelilingi Matahari yang menjadi pusat pergerakan langit tetapi teori ini tidak mendapatkan tempat di jaman itu.

Jaman astronomi klasik di tutup oleh Hipparchus pada abad ke-1 SM yang menyatakan bahwa Bumi itu diam dan di kelilingi oleh Matahari, Bulan, dan Planet-planet yang lain. Sistem ini di sebut Geosentris lalu di sempurnakan oleh Ptolomeus pada abad ke-2 M yang lebih di kenal sebagai sistem Ptolomeus.

Tiga belas abad lebih konsep Geosentris di terima oleh masyarakat dunia. Pada tahun 1512 di bukalah sejarah baru oleh Kopernikus yang mengemukakan bahwa planet dan bintang bergerak mengelilingi Matahari dengan Orbit lingkaran. Pada tahun 1609 Kepler mendukung gagasan tersebut dengan tiga hukum yang selain menyebutkan bahwa Matahari adalah pusat Tata surya, juga memperbaiki Orbit planet menjadi Elips.

Di tahun yang sama Galileo menemukan teleskop yang pertama. Dengan teleskop ia menyimpulan bahwa Bumi bukanlah pusat gerak, dengan penemuanya ini bukan saja telah membantu menguatkan konsep Heliosentris Kopernikus, tetapi juga membuka lembaran baru dalam perkembangan ilmu astronomi.

Ditulis dalam Artikel Ilmiah. Komentar Dimatikan

Boyolali, 14 juli 2007

Hai diare sekarang aku di boyolali loh! taugak sekarang lagi sama cewek!dia usil banget dan sukanya bilang “his berisik” eh aku lagi mumet nich. kenapa yach perasaanku kok gak enak! apa ada sesuatu.

Ditulis dalam Buku Diare. Komentar Dimatikan

Ether Tidak Ada

Ether dan Relativitas (1920), disampaikan oleh Dr. Einstein ketika berada di Universitas Leiden, menjelaskan sifat-sifat yang diperlukan oleh eter ruang oleh teori relativitasSalah satu perkembangan pemikiran yang kiranya patut dicatat adalah, dalam ceramah di Leiden tersebut Einstein mengakui bahwa hipotesis tentang eter tidak dengan sendirinya bertentangan dengan TRK (Teori Relatifitas Khusus). Padahal dalam makalah aslinya tentang TRK pada tahun 1905 ia jelas-jelas menyatakan bahwa gagasan tentang eter bersifat terlalu mengada-ada. Jadi, dapat dikatakan, bahwa belakangan Einstein pun mengakui adanya semacam eter meski bentuknya mungkin tidak persis seperti yang dibayangkan orang sebelum lahirnya TRK dan TRU. Interaksi oleh eter dewasa ini dibayangkan oleh para fisikawan terjadi lewat pancaran gelombang graviton (dari kata gravitasi), yang sayangnya juga belum berhasil dibuktikan keberadaannya secara meyakinkan; dengan kata lain harus dimengerti sebagai suatu masalah teoretis yang belum sepenuhnya selesai. Hipotesis ether ini kiranya juga selaras dengan hipotesis Maxwell sendiri manakala mengajukan sintesis elektrodinamikanya pada tahun 1864, analisis sederhana terjadi pada astronot – astronot yang berjalan diatas permukaan bulan di luar angkasa yang merupakan ruang hampa udara. Mengapa sorotan kamera dapat merekam kejadian yang dilakukan oleh astronot di luar angkasa, karena kamera disorotkan pada keadaan hampa udara, maka harus disimpulkan bahwa cahaya dapat merambat dalam ruang hampa. Kalau eter tersebut tidak dapat dirasakan, dipikirkan, dan juga tidak diperlukan kehadirannya (sebagai medium untuk interaksi jarak jauh); maka mengapa harus bersusah-payah membuat hipotesis tentangnya? Inilah pendapat Einstein muda ketika mempublikasikan karyanya pada 1905. Namun, di sinilah terdapat paradoksnya, kata Einstein. Bagaimanakah kesatuan dapat dijaga dalam pemahamannya yang menyeluruh akan gaya-gaya alamiah? Atau dengan mencoba untuk melihat gaya-gaya kontak sebagai suatu bentuk aksi pada jarak yang hanya dapat diamati pada suatu jarak sangat kecil – dan inilah jalan yang ditempuh oleh para pengikut Newton, yang begitu terpengaruh oleh doktrinnya; atau dengan menganggap bahwa aksi Newtonian pada suatu jarak hanya tampaknya saja merupakan aksi pada suatu jarak, namun sebenarnya dibawa oleh suatu medium pengisi ruang, apakah oleh gerakan atau oleh deformasi elastis dari medium ini. Jadi, upaya untuk menyatukan pandangan tentang gaya-gaya alamiah memimpin pada suatu hipotesis tentang suatu eter (ether). Hipotesis ini, tidaklah pertama-tama membawa padanya suatu kemajuan dalam teori gravitasi atau dalam fisika pada umumnya, sedemikian sehingga telah menjadi suatu kebiasaan untuk memperlakukan hukum-hukum Newton tentang gaya sebagai suatu aksiom yang tidak dapat direduksi lagi. Tetapi hipotesis eter terikat untuk selalu memainkan peran dalam ilmu fisika, bahkan jika pada mulanya suatu bagian yang tidak tampak.Jika dalam paroh pertama abad kesembilan-belas keserupaan yang menjangkau jauh terungkap antara sifat-sifat cahaya dan gelombang elastis dalam benda-benda yang dapat ditimbang, hipotesis eter menemukan dukungan segar. Itu tampak di luar pertanyaan bahwa cahaya harus ditafsirkan sebagai proses getaran dalam suatu medium yang elastislembam yang mengisi penuh ruang universal. Juga tampak sebagai suatu konsekuensi yang perlu dari kenyataan bahwa cahaya mampu mengalami polarisasi, bahwa medium eter ini haruslah bersifat benda pejal (solid body), karena gelombang transversal tidaklah dimungkinkan dalam suatu medium cair (fluid) selain dalam suatu medium pejal. Karenanya para fisikawan terpaksa sampai pada teori tentang eter luminiferous ‘quasi-kaku’, yang bagian-bagiannya tidak dapat menghantarkan gerakan relatif satu terhadap yang lain kecuali gerakan-gerakan kecil deformasi yang berhubungan dengan gelombang-cahaya.Teori ini, juga disebut teori tentang eter luminiferous stasioner- selanjutnya menemukan dukungan kuat dalam eksperimen yang juga sangat penting dalam TRK, yaitu eksperimen Fizeau, darimana seseorang akan terdorong untuk menyimpulkan bahwa eter luminiferous tersebut tidak mengambil bagian dalam gerakan benda-benda. Fenomena aberasi juga mendukung teori tentang eter quasi-kaku tersebut.Perkembangan teori elektrisitas sepanjang jalur yang dibukakan oleh Maxwell dan Lorentz membelokkan perkembangan gagasan kita tentang eter secara istimewa dan tidak teramalkan sebelumnya. Untuk Maxwell sendiri eter tersebut sesungguhnya masih memiliki sifat-sifat yang murni mekanis, meskipun lebih rumit daripada sifat-sifat mekanis dari benda-benda pejal yang kelihatan. Tetapi baik Maxwell maupun para pengikutnya tidak berhasil merumuskan suatu model mekanis untuk eter yang dapat melengkapi suatu penafsiran mekanis dari hukum-hukum Maxwell tentang medan elektromagnetik. Dalam teori Hertz, di mana materi tampak tidak hanya sebagai pembawa kecepatan, energi kinetik, dan tekanan mekanis, tetapi juga sebagai pembawa medan elektromagnetis. Karena medan-medan semcam itu juga terjadi dalam ruang hampa (in vacuo) -yaitu dalam kondisi bebas eter- maka eter juga tampak sebagai pendukung medan elektromagnetik. Eter tampaknya tidak dapat dibedakan dalam fungsinya dari materi biasa. Dalam materi ia mengambil bagian dalam gerakan materi dan dalam ruang hampa ia selalu memiliki kecepatan; sedemikian sehingga eter tersebut memiliki suatu kecepatan tertentu yang sama di selurub ruang. Tidak ada perbedaan mendasar antara eter Hertz dan materi yang dapat ditimbang (yang sebagian tinggal di dalam eter). Teori Hertz menderita tidak hanya oleh karena cacat dalam menjelaskan (yang satu disebabkan oleh yang lain) materi dan eter, Suatu kemajuan terpenting dalam teori kelistrikan sejak Maxwell, dengan jalan mengambil dari eter kualitas mekanikanya, dan dari materi kualitas elektromagnetisnya. Sebagaimana dalam ruang hampa, demikian pula dalam interior dari benda-benda material, eter, dan bukan materi yang dipandang secara atomistik, adalah secara ekslusif kursi untuk medan elektromagnetis. Akan halnya sifat mekanis eter Lorentzian,. Posisi berikutnya yang mungkin diambil untuk menjelaskan keadaan ini adalah sebagai berikut. Eter sama sekali tidak ada. Medan elektromagnetik bukanlah keadaan medium, dan tidaklah terikat pada sebarang pembawa, tetapi merupakan kenyataan yang berdiri sendiri yang tidak dapat direduksi menjadi hal lainnya, sama seperti atom-atom dari materi yang dapat ditimbang. Bayangkan riak gelombang di permukaan air. Di sini kita dapat menjelaskan dua hal yang berbeda. Atau kita dapat mengamati bagaimana permukaan yang beriak yang membentuk batas antara air dan udara berubah-ubah menurut waktu; Tentu saja, dari sudutpandang TRK, hipotesis eter pada mulanya tampak sebagai suatu hipotesis yang mengada-ada (empty hypothesis). Tetapi di pihak lain ada suatu argumen kuat untuk menyokong hipotesis eter tersebut. Untuk menolak eter pada akhirnya berarti mengandaikan bahwa ruang hampa tidaklah memiliki kualitas fisis apapun. Newton mungkin tidak kurang tepat memberi julukan ruang mutlaknya “Eter”; Jika kita mempertimbangkan medan gravitasi dan medan elektromagnetis dari sudutpandang hipotesis eter, kita akan menjumpai perbedaan yang mencolok antara keduanya. Tidak mungkin ada ruang atau bagian dari ruang tanpa potensi-potensi gravitasi; karena potensi-potensi tersebut memberikan kepada ruang kualitas metriknya, yang tanpanya ia tidak dapat dibayangkan sama sekali. Keberadaan medan gravitasi tidak dapat dipisahkan dan dibatasi oleh keberadaan ruang. Di pihak lain suatu bagian dari ruang mungkin sangat bisa dibayangkan tanpa medan elektromagnetik; jadi bertentangan dengan medan gravitasi, medan elektromagnetik tampaknya hanyalah berkaitan secara sekunder terhadap eter; bentuk formal dari medan elektromagnetik sama sekali tidak dipengaruhi oleh eter gravitasional. Dari status teori sekarang tampaknya medan elektromagnetik, berlawanan dengan medan gravitasi, tinggal pada suatu motif formal yang baru, meskipun alam mungkin begitu saja memberikan eter gravitasional jenis medan yang berbedaSebagai rangkuman, kita dapat mengatakan bahwa menurut TRU ruang menerima  kualitas fisisnya; dalam pengertian ini -karena itu- terdapat eter. Menurut TRU ruang tanpa eter tidak dapat dibayangkan; karena dalam ruang tersebut tidak saja tidak mungkin ada perambatan cahaya, tetapi juga tidak mungkin ada keberadaan untuk standar-standar ruang dan waktu (batang dan lonceng pengukur), tidak juga ada selang (interval) ruangwaktu dalam pengertian fisis. Tetapi eter ini mungkin tidak dibayangkan sebagai dilekati dengan karakteristik kualitas dari media yang dapat ditimbang, seperti terdiri dari bagian-bagian yang dapat dilacak menurut waktu. Gagasan tentang gerak mungkin tidak dapat diterapkan padanya

Ditulis dalam Artikel Ilmiah. Komentar Dimatikan

Pengamat Lawan Pemikir

by hsbn89@students.undip.ac.id

Perkembangan ilmu dapat dibagi dlam dua tahp. Tahap pertama berlangsung lama dan bercakupan luaas, berawal dari Sumeria (kira-kira pada 3000 SM), lalu berkembanga di Babilonia dan kemudian di Mesir. Tahap kedua berlangsung lebih singkat, kira-kira 400 tahun, berawal dari Revolusi Ilmiah yang terjadi pad abad ke -17 dan berlangsung di suatu kawasan saja yaitu Eropa Utara.

Walaupun demikian perkembangan ilmu tahp kedua lebih banyak menghasilkn kemajuan di banding tahap pertama yang berlangsung di berbagai benua. Selain di timur tengah tradisi ilmiah juga sudah berkembang di Cina selama ribuan tahun. Di India, khususny di Lembah Indus, tradisi ilmiah juga sudah berkembang ribuan tahun yang silam. Beberapa abad sebelum Masehi ada peradaban Yunani yang banyak menyumbang ilham bgi ilmu alam di kemudian hari. Sulit dipastikan seberapa jauh orang-orang yunani memakai pengertin matematis, ilmih maupun teknis dari kebudayan timur tengah dan cina yang sudah ada sebelum mereka. Beberapa abad setelah masehi peradapan Yunani memudar menyusul kekalahn mereka dalm peperangan dan faktor lain. Ketika terjadi alih pengetahuan ke kebudayaan islam di kawasan Laut Tengah, penduduk eropa bagian utara masih tinggal di rimba belantara

Ditulis dalam Artikel Ilmiah. Komentar Dimatikan

Teori Penglihatan

Tidak banyak orang mengetahui bahwa orang pertama yang menjelaskan soal mekanisme penglihatan pada manusia (yang menjadi dasar teori optik modern) adalah ilmuan muslim asal Irak. Ibnu Al – Haitam atau dibarat dikenal dengan nama Alhazen adalah orang tersebut. Haytam mencatatkan namanya sebagai orang pertama yang menggambarkan seluruh detil bagian indera penglihatan manusia. Ia memberikan penjelasan yang ilmiah tentang bagaimana proses manusia dapat melihat. Salah satu teorinya yang terkenal adalah ketika ia mematahkan teori penglihatan yang diajukan dua ilmuan Yunani, Ptolemy dan euclid.Kedua ilmuan ini menyatakan bahwa ‘manusia bisa melihat karena adanya cahaya yang keluar dari mata yang mengenai obyek”. Berbeda dengan keduanya Ibnu Haytam mengoreksi teori ini dengan menyatakan bahwa “justru obyek yang dilihatlah yang mengeluarkan cahaya yang kemudian ditangkap mata sehingga bisa terlihat”. Beliau menyatakan bahwa setiap titik didalam kawasan atau obyek yang disinari akan memancarkan sinar-sinar cahaya kesemua arah, tetapi hanya satu sinar tunggal dari pada setiap titik yang mengenai mata secara tegak lurus dapat dilihat. Sebaliknya, sinar-sinar yang lain yang mengenai mata pada sudut lain tidak dapat terlihat. Haytam menggunakan kamera lubang jarum yang saat ini digunakan umat manusia. Oleh kamus webster, fenomena ini secara harfiah diartikan sebagai “ruang gelap”. Biasanya bentuknya berupa kertas kardus dengan lubang kecil untuk masuknya cahaya

Ditulis dalam Artikel Ilmiah. Komentar Dimatikan

Semarang, 21 Juni 2007

Hari ini aku ujian matematika, aduh sulit banget deh….

kemaren aku ujian komputasi, wah keren nilai ujian mid semester berturut – turut selama tiga kali nilinya 95 tertinggi. gak puas nich rasanya… eh gimana yach kabr adekku tercinta, sekarang lagi ngapainnya? moga aja lagi memimpikan aku he.. he… entar sore aku mau cuci baju terus besok pagi aku pulang deh ke Boyolali soalnya udah satu bulan nich gak niliki kampung rindu banget tapi labih rindu sama adekku waduh ….

enggak tahu kenapa yach. perasaanku akhir – akhir ini gak enak, apa ada tugas yang belum aku kerjakan yach… atau ada masalah kedepan kali?

minggu ini aku targetkan mau membuat karya tulis tentang lingkungan hidup, soalnya mau ada iven LKTM LH dari dikti nich. doakan yach Diare biar Karya Tulisku selesai minggu ini.

Ditulis dalam Buku Diare. Komentar Dimatikan
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.